ALMIJAN sejarah kabah

Di dekat pintu, kira-kira di hadapan Maqam (batu tempat berdiri) Ibrahim, terdapat tempat yang banyak dipergunakan orang untuk shalat, yang disebut dengan ALMIJAN. Konon disinilah Nabi Ibrahim dan anak-Nya, Nabi Ismail, berdiri sejenak sebelum bekerja pada waktu membuat Kabah.

REHABILITASI

Disebutkan sepanjang sejarah Ka’bah telah mengalami sedikitnya 10 kali pembangunan/rehabilitasi yaitu :

  1. Oleh Para Malaikat sejarah kabah
  2. Oleh Nabi Adam
  3. Oleh Syits bin Adam
  4. Oleh Nabi Ibrahim dan Ismail
  5. Oleh Suku Amaliqah
  6. Oleh Suku Jurhum
  7. Oleh Qushay bin Kilab
  8. Oleh Abdul Muthalib
  9. Oleh Bangsa Quraisy
  10. Oleh Abdullah Bin Zubair

Setelah Quraisy, rehabilitasi dilakukan lagi pada Tahun 683M oleh Abdullah bin Zubair. Yang diteruskan pada Tahun 683 M, oleh Hajjaj bin Yusuf Al-Tsaqafi. Adapun yang sampai sekarang kita lihat adalah hasil pembangunan dari Sultan Murad IV Al-Usmani pada Tahun 1630.

Pembangunan generasi pertama dilakukan oleh para Malaikat, dua ribu tahun sebelum Nabi Adam diciptakan, sebagai tempat Thawafnya para Malaikat di Bumi. Selanjutnya dengan dibantu Malaikat, Nabi Adam AS dihitung sebagai generasi ke-2 yang membangun kembali Ka’bah, dan melakukan Thawaf. Setelah Nabi Adam Wafat, dibangun kembali oleh salah seorang putranya yaitu Syist, dengan menggunakan tanah dan batu. Ka’bah yang dibuat oleh Syist itu berdiri terus sampai zaman Nabi Nuh AS. Pada zaman Nabi Nuh inilah Ka’bah runtuk akibat terpaan taufan dan banjir yang dahsyat.

Sejarah kabah pembangunan sampai generasi ke-3 itu tidak terdapat baik dalam Al Qur’an, maupun dalam Hadis. Pembangunan Ka’bah generasi ke-4 dilakukan oleh Nabi Ibrahin AS dan putra Beliau Nabi Ismail AS. Keterangan yang dimaksud dalam A l Quran (Surat Al-Bakarah Ayat 125) yang artinya :

“Dan (ingatlah) ketika kami jadikan rumah (Baitullah) tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia, dan dijadikanlah maqam Ibrahim tempat shalat. Dan kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail untuk membersihkan rumahku itu bagi orang-orang yang Tawaf, yang Iktikaf, yang Ruku dan bagi yang Sujud.”

RUKUN-RUKUN KABAH

Rukun yang dimaksudkan disini adalah rukun yang mengandung arti harfiahnya “Sudut atau Pojok”. Sudut yang berjumlah 4 buah tersebut yang terdapat pada bangunan Ka’bah, merupakan 4 rukun yang diutamakan di dalam Manasik Haji. Rukun tersebut, yaitu :

–          Rukun Yamani sejarah kabah

–          Rukun Hajar Aswad

–          Rukun Iraqi

–          Rukun Syam

Rukun Yamani dan Rukun Hajar Aswad disebut “Dua Rukun Yamani”, karena tempat kedua rukun tersebut menghadap ke arah negeri Yaman.

Rukun Iraqi dan Rukun Syam disebut juga “Dua Rukun Syamiani”, karena keduanya mengarah ke negeri Syam yang sekarang meliuti semua negara yang terletak di Pantai Timur Laut Tengah, seperti Yordania, Palestina, Syria dan Lebanon.

MATWAF

Bagian tempat Tawaf di sekeliling Ka’bah diberi lantai marmer. Hanya sebatas marmer inilah ukuran luas Masjidil Haram di masa Nabi Muhammad. Tempat ini sekarang dinamakan Matwaf, atau tempat Tawaf.

MULTAZAM

Hajar Aswad terletak di pojok sebelah Timur kira-kira 1,5 M dari lantai dasar. Dinding antara Hajar Aswad dengan Pintu Ka’bah itu diberi nama dinding Multazam.

Disebut demikian karena inilah salah satu dari 3 lokasi paling mustajab untuk memanjatkan do’a kepada Allah. Jama’ah yang sudah Tawaf biasanya berebut untuk mencurahkan isi hati dan menghadap Allah dengan do’a-do’a yang biasanya diucapkan dengan air mata yang bergelinang.

Ketika Ka’bah yang didirikan oleh Nabi Ibrahim itu runtuh, maka pembangunan yang ke-5 dilakukan oleh suku Amaliqah. Ketika Ka’bah yang dibangun oleh suku Amaliqah itu hancur, pembangunan yang ke-6 oleh suku Jurhum, kemudian yang ke-7 diperbaharui oleh Qushai bin Kilab, dimana beliau mengadakan perubahan terhadap ukuran dinding-dinding Ka’bah. Pembangunan ke-8 dilakukan oleh Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad SAW. Generasi ke-9 yang membangun Ka’bah adalah suku Quraisy. Mulai generasi inilah data-data pembangunan mulai dicatat sihingga hal ikhwal Ka’bah dapat diikuti melalui berbagai tulisan para Sejarawan.

BANJIR BESAR sejarah kabah

Pada tanggal 19 Sya’ban 1039 H turun hujan lebat yang teus menerus mulai jam 2 malam sampai waktu menjelang Ashar dan bersambung lagi sampai besoknya, 20 Sya’ban. Banjir besar tidak hanya menggenangi Ka’bah dan Masjidil Haram saja, tetapi seluruh rumah penduduk kota Mekkah. Kira-kira 1000 orang meniggal waktu itu dan banyak pula binatang ternak yang mati. Sore hari tgl 20 Sya’ban 1039 (hari Kamis), runtuhlah sebagian dinding Ka’bah, yaitu dinding Syami, sebagian dinding Timur dan Barat serta loteng atap pun ikut ambruk juga. Menjelang Magrib runtuhlah dinding serambi Ka’bah.

Hiruk Pikuk dan ketakutan melanda masyarakat kota Mekkah. Walikota Mekkah waktu itu, Mas’ud bin Idris bin Hasan, segera memerintahkan agar tanggul pintu Ibrahim yang menjadi saluran air Masjidil Haram segera dibuka. Maka air pun mengalir ke hilir kota Mekkah.

Penjaga Ka’bah diperintahkan untuk segera ke dalam Ka’bah dan mengeluarkan semua pelita dan 22 lampu-lampu yang terbuat dari emas. Salah satu di antaranya bertahtakan permata dan mutiara mutu manikam. Barang-barang tersebut diselamatkan dan disimpan di rumah Syekh Jamaluddin Muhammad Abu Qasim Asy Syaibi.

KA’BAH DITINGGIKAN

Generasi ke-10 dalam pembangunan Ka’bah adalah Andullah bin Zubair, waktu itu menjabat Walikota Mekkah. Perubahan besar yang dilakukan oleh Zubair adalah mengubah tinggi Ka’bah, dari 5 meter menjadi 15 meter, diberi atap, dan di pojok Utara dibuat tangga untuk naik ke atas loteng serta dihiasi dengan emas. Sepuluh tahun kemudian, setelah Abdullah bin Zubair wafat, atas izin Khalifah Abdul Malik bin Marwan, pintuBarat yang dibuat Zubair ditutup dengan alasan untuk mengembalikan bangunan Ka’bah kepada keadaan yang hampir sama dengan yang dibuat oleh Nabi Ibrahim AS.

Anda mungkin juga menyukai:

%d blogger menyukai ini: